BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Pengajaran agama di Indonesia memiliki riwayat yang sangat
panjang untuk dapat dimasukkan pengajaran dalam kurikulum
disekolah-sekolah umum. khususnya agama Islam pada zaman penjajahan Belanda
dilakukan secara tidak resmi dengan bertabliqh disekolah-sekolah umum di luar
jam sekolah, kenyataannya perhatian murid-murid sangat besar karena
mereka sangat membutuhkan santapan rohani. Sesudah Indonesia merdeka pendidikan
agama telah mulai diberikan disekolah-sekolah negeri.
Atas dasar tersebut berarti pengajaran agama tidak hanya
dilakukan dilingkungan keluarga dan lembaga non formal lainnya tetapi juga,
lambat laun mulai diakui disekolah formal seiring perubahan sistem pemerintahan
Indonesia yang semakin mengukuhkan pendidikan agama Islam sebagai mata
pelajaran wajib, bagi penganutnya.
Pengajaran agama harus menyentuh segala lapisan umur dan
lapisan masyarakat karena merupakan petunjuk untuk kehidupan dunia secara
universal. Pengajaran agama Islam merupakan perintah dari Allah dan merupakan
ibadah kepada-Nya.
QS.
An Nahl : 125
Terjemahnya:
Serulah
(manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan
bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih
mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih
mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.
QS.
Ar-Ra’d : 28
Terjemahnya:(yaitu)
orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat
Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.
Bagi
orang-orang muslim diperlukan adanya pendidikan agama Islam, agar mengarahkan
fitrah mereka ke arah yang benar, sehingga mereka akan dapat mengabdi dan
beribadah sesuai dengan ajaran Islam. Tanpa adanya pendidikan agama dari satu
generasi berikutnya, maka orang akan semakin jauh dari agama yang benar.
B.
Rumusan Masalah
- Apa definisi
metode pembelajaran?
- Bagaimana
metode pengajaran agama pada anak balita?
- Bagaimana
metode pengajaran agama pada anak-anak?
- Bagaimana
metode pengajaran agama pada anak remaja?
C.
Tujuan
1.
Menjelaskan definisi metode pembelajaran.
2.
Bisa menjelaskan bagaimana metode pengajaran agama pada anak
balita.
3.
Bisa menjelaskan bagaimana metode pengajaran agama pada
anak-anak.
4.
Bisa menjelaskan bagaimana metode pengajaran agama pada anak
remaja.
D.
Metode Penelitian
1.
Observasi
2.
Wawancara
3.
Kuesioner
BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A.
Pengertian Metode Pembelajaran Dalam
Pendidikan Islam
Kata metode berasal dari Bahasa Yunani. Secara etimologi, kata metode
berasal dari dua suku perkataan, yaitu meta dan hodos. Meta berarti “melalui”
dan hodos berarti “jalan” atau “cara”. Dalam Bahasa Arab metode dikenal dengan
istilah thariqah yang berarti langkah-langkah strategis yang harus di
persiapkan untuk melakukan suatu pekerjaan. Sedangkan dalam Bahasa Inggris
metode dikenal dengan kata method yang berarti “cara”.
Sedangkan menurut terminology (istilah) para ahli memberikan definisi
yang beragam tentang metode. Terlebih jika metode itu sudah di sandingkan
dengan pendidikan atau pengajaran, diantaranya :
1.
Winarno Surakhmad mendefinisikan
bahwa metode adalah cara yang di dalam fungsinya merupakan alat untuk mencapai
tujuan.
2.
Abu Ahmadi mendefinisikan bahwa
metode adalah suatu pengetahuan tentang cara-cara mengajar yang dipergunakan
oleh seorang guru atau istruktur.
3.
Ramayulis mendefinisikan bahwa
metode mengajar adalah cara yang di pergunakan guru dalam mengadakan hubungan
dengan peserta didik pada saat berlangsungnya proses pembelajaran.
Berdasarkan definisi yang di kemukakan para ahli mengenai pengertian
metode di atas. Beberapa hal yang harus ada dalam metode adalah :
1.
Adanya tujuan yang yang hendak di
capai.
2.
Adanya aktifitas untuk mencapai
tujuan.
3.
Aktivitas itu terjadi pada saat
proses pembelajaran berlangsung
4.
Adanya perubahan tingkah laku
setelah aktivitas itu di lakukan.
B.
Metode Mengajarkan Agama Pada Anak
(Balita)
Pendidikan agama sebenarnya telah dimulai sejak anak lahir
bahkan sejak anak dalam kandungan. Anak usia balita atau 0-5 tahun belum
termasuk usia sekolah. Dengan demikian ia lebih banyak bersama dan berinteraksi
di lingkungan keluarga terutama orang tuanya. Maka orang tua adalah
segala-galanya bagi anak. Oleh karena itu, setiap orang tua hendaknya menyadari
bahwa pendidikan agama bukanlah sekedar mengajarkan pengetahuan agama dan
melatih ketrampilan anak dalam melaksanakan ibadah. pendidikan agama menyangkut
manusia seutuhnya.
Agar agama itu dalam tumbuh dalam jiwa anak dan dapat
dipahami nantinya, maka harus ditanamkan semenjak kelahiran bayi. Dengan
demikian, ada metode-metode tertentu yang harus diterapkan dalam mengajarkan
agam pada anak.
Adapun metode yang dimaksud adalah semua cara yang dilakukan
dalam upaya mendidik. Mengajar adalah termasuk upaya mendidik metode
mengajarkan agama pada anak (balita) telah banyak dicontohkan oleh Rasulullah
SAW. Diantaranya:
1.
Memperdengarkan Azan dan Iqamat saat
kelahiran anak
Sebagaimana Abu Da’ud Turmidzi, Ali Rafi Baihaqi dan Ibnu
Suni meriwayatkan bahwa Nabi SAW mengajarkan agar azan ditelinga kanan dan
qamat ditelinga kiri anak yang baru lahir.
Artinya:
Aku melihat Rasulullah saw mengumandangkan azan pada telinga
al Hasan bin Ali, ketika Fatimah melahirkannya.
Adapun hikmah dari azan dan iqamat menurut Ibnu Qayyum al
Jauziyah yaitu agar supaya suara yang pertama kali didengar oleh anak
adalah kalimat-kalimat seruan yang maha tinggi yang mengandung kebesaran Tuhan.
Hikmah lainnya adalah larinya syaitan hingga ia lemah ketika pertama kali ingin
mengikat atau mempengaruhinya. Azan tersebut juga mengandung makna agar dakwah
Islam mendahului dakwah syaitan.
2.
Metode hiwar atau percakapan
Metode hiwar adalah metode percakapan akan tetapi dalam hal
ini perlu dipahami bahwa objeknya adalah anak balita. Anak pada umumnya mulai
pandai berbicara pada umur dua tahun. Meskipun pada dasarnya bayi yang berumur
satu tahun pun sudah dapat diajak berinteraksi dengan bahasa isyarat. Oleh
karena itu, dianjurkan ketika anak mulai pandai bercakap, diajarkan kata-kata yang
baik dan benar, sebagai mana dalam suatu riwayat al-Hakim bahwa Rasulullah SAW
bersabda:
Artinya:
Bacakanlah
kepada anak-anakmu kalimat pertama dengan “lailahaillallah”
Hikmanya agar kalimat tauhid dan syiar masuk ke pendengaran
anak, dan kalimat pertamalah yang diucapkan lisannnya dan lafal pertama yang
difahami anak.
Demikian metode percakapan ini terus diterapkan sampai anak
pandai berbicara yang baik dan lebih logis dan seterusnya.
3.
Metode Ketauladanan
Metode ketauladanan adalah suatu cara mengajarkan
agama dengan mencontohkan langsung pada anak. Hal ini telah dilakukan
sendiri oleh Rasulullah saw sebagaimana dalam firman Allah swt dalam QS.
Al-Ahzab ayat 21.
Artinya
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri
teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan
(kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.
Metode ini dapat diterapkan pada anak usia 3-5 tahun,
misalnya mencontohkan perbuatan shalat, mengaji, shadaqah, berbuat baik dan
lain-lain.
4.
Metode Pembiasan
Metode pembiasan adalah sebuah cara yang dapat dilakukan
untuk membiasakan anak berfikir, bersikap dan bertindak sesuai dengan
ajaran agama Islam.
Inti pembiasan sebenarnya pengalaman dan pengulangan seorang
ibu membiasakan menyusui dengan ASI anaknya sebenarnya sudah menanamkan
kebiasaan tentang cinta kasih. Demikian juga jika umur anak mencapai 1-2 tahun,
anak paling sering memainkan mulut atau alat kelaminnya. Oleh karena itu
seorang ibu harus membiasakan anak untuk memberikan sesuatu yang tidak
mencedrainya, misalnya memberikan makanan dengan memegangkan pada tangan kanan,
mengalihkan tangannya bila memainkan alat kelaminnya. Apabila anak berusia 3-5
tahun dibiasakan makan bersama, berdoa, mencuci tangan, bangun pagi dan
lain-lain.
5.
Metode drill/Latihan
Menurut Zuhaini metode dirill atau latihan adalah suatu
metode dalam pengajaran dalam melatih anak terhadap bahan pelajaran yang telah
diberikan. Untuk usia anak yang masih balita yang berumur 2-5 tahun
metode ini dapat diterapkan. Misalnya melatih berbahasa, melatih ketrampilan
gerak dengan cara menggambar dan lain-lain.
6.
Metode pemberian hadiah atau pujian
Metode ini dapat diterapkan bagi anak berusia 3-5 tahun
karena hal ini menarik. Apa lagi jika diberikan atas prestasi yang baik, anak
akan semakin termotifasi. Misalnya anak bisa menyebutkan lima huruf hijaiyah,
atau menghafal suatu doa, maka dapat diberikan pujian atau hadiah berupa
materi. Dengan demikian anak akan merasa dihargai atas keberhasilannya.
C.
Metode Pengajaran Agama Pada
Anak-anak
Menurut Zakiyah Darajat dalam bukunya ilmu jiwa agama
kategori umur anak-anak adalah usia sekolah dasar yang pada umumnya usia 6-12
tahun. Ketika anak usia seperti ini jiwanya telah membawa rasa bekal agama dan
kepribadiannya, tetapi masih dalam lingkungan dasar.
Dengan demikian, pengajaran agama sangat penting untuk
ditanamkan dalam diri anak. Adapun beberapa metode yang dapat diterapkan dalam
mendidik anak sesuai dengan perkembangan yang dapat diterapkan dalam mendidik
anak sesuai dengan perkembangan anak tersebut, yaitu:
1.
Metode keteladanan
Keteladanan dalam pendidikan merupakan metode yang cukup
efektif dalam mempersiapkan dan membentuk anak secara moral, spiritual dan
sosial. Sebab seorang pendidik merupakan contoh ideal dalam pandangan anak,
yang tingkah laku dan sopan santunnya akan ditiru. Karenanya keteladanan
merupakan salah satu faktor penentu baik buruknya anak didik. Dalam ayat
Al-Qur’an banyak yang menjekaskan berapa pentingnya penggunaan keteladanan. Antara
lain dalam firman Allah SWT. Surah Al-Ahzab: 21
Terjemahnya:
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri
teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan
(kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.
Ayat di atas menjelaskan bahwa Rasulullah adalah contoh yang
paling baik yang harus kita ikuti. Secara tersirat ayat ini juga memberikan
isyarat bahwa keteladanan dalam kehidupan sehari-hari dalam memberikan
pengajaran sangat efektif seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW.
2.Metode Pembiasaan
Yang dimaksud pembiasan adalah membiasakan cara-cara
bertindak, dibaitkan dengan metode pembelajaran pada anak-anak, maka pembiasaan
anak kepada hal-hal yang baik dalam belajar sopan santun dalam keluarga maupun dalam
kehidupan sehari-hari.
3. Metode Nasehat
Al-Qur’an
mensyariatkan dengan nasehat, sebagaimana firman Allah yang artinya:
“Sesungguhnya
Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu”.
Dengan metode ini pendidik dapat menanamkan pengaruh yang
baik kedalam jiwa dengan cara memberikan nasehat yang dapat mengetuk hati atau
relung jiwa sang anak. Bahkan dengan metode ini pendidik dapat mengarahkan
peserta didik kepada kebaikan dan kemaslahatan, serta kemajuan masyarakat dan
umat.
4.Metode Kisah
Metode kisah mengandung arti suatu cara dalam menyampaikan
materi pengajaran dengan menuturkan secara kronologis tentang bagaimana
terjadinya sesuatu hal yang baik, yang sebenarnya terjadi ataupun tekanan saja.
Sebagaimana dalam firman Allah dalam surah Yusuf ayat 111:
Terjemahnya:
Sesungguhnya
pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai
akal.
Dari ayat tersebut di atas dapat dipahami bahwa ada hikma
yang terkandung dari kisah-kisah yang disampaikan oleh Allah SWT melalui
firman-Nya. Bagi orang-orang yang mau berfikir dan menggunakan akal.
5.Metode Hukuman
Muhammad
Quthb mengatakan bahwa “bila teladan dan nasehat di metode lain tidak mampu
menguba sikap anak, maka pada waktu itu harus diadakan tindakan tegas yang
disebut hukum (sifatnya mendidik)
D.
Metode Pengajaran Agama Pada Remaja
Remaja adalah anak yang berada pada usia bukan anak-anak,
tetapi juga belum dewasa. Periode remaja itu belum ada kata sepakat mengenai
kapan dimulai dan berakhirnya. Ada yang berpendapat bahwa usia remaja itu
antara 13-21, ada juga yang mengatakan antara 13-19 tahun. Remaja yang telah
tamat atau telah putus sekolah hakikatnya membutuhkan dan berhak atas lapangan
kerja yang wajar, sesuai dengan UUD 1945 pasal 27 ayat 2.
Telah diketahui bersama bahwa anak adalah asset terbesar
bagi orang tua, anak adalah amanah Allah yang perlu didik. Oleh karena itu,
agama harus ditanamkan pada diri mereka.
Dalam mengajarkan agama pada remaja diperlukan berbagai
metode. Adapun metode yang digunakan untuk mengajarkan agama pada remaja
telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW antara lain:
1.
Metode keteladanan.
Ketelaudanan dalam pendidikan merupakan metode yang
berpengaruh dalam aspek moral spiritual anak adalam remaja mengingat pendidik
adalah figur terbaik dalam pandangan anak. Metode ini dapat diterapkan pada
usia remaja misalnya contohkan shalat, mengaji dan ibdah-ibadah atau perbuatan
baik lainnya.
2.
Metode Demonstrasi
Metode demonstrasi adalah cara mengajar dengan menggunakan
peragaan atau memperlihatkan bagaimana berjalannya suatu proses tertentu kepada
yang diajar.
Metode ini dapat digunakan untuk mengajarkan agama
pada remaja, misalnya mendemonstrasikan langsung seperti; praktek shalat,
wudhu, atau praktek penyelenggaraan shalat jenazah.
3.
Metode pemberian tugas
Termasuk metode pengajaran agama pada remaja yang cukup
berhasil dalam membentuk aqidah anak (remaja) dan mempersiapkannya baik
secara moral, maupun emosional adalah pendidikan anak dengan petuah dan
memberikan kepadanya nasehat-nasehat. Karena nasehat memiliki pengaruh yang
cukup besar dalam membuka mata anak (remaja) akan hakikat sesuatu, mendorong
untuk menghiasi dirinya dengan akhlak yang mulia.
Adapun metode nasehat, dicontohkan oleh Luqmanul Hakim yang
diabadikan dalam Al-Qur’an QS. Al Luqman ayat 13 dan 17.
Terjemahnya:
Dan
(ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran
kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya
mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.(13) Hai
anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan
cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang
menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan
(oleh Allah). (17)
Menurut
Abudinata bahwa nasehat ini cocok untuk remaja karena dengan
kalimat-kalimat yang baik dapat menentukan hati untuk mengarahkannya
kepada ide yang dikehendaki.
Selanjutnya
beliau mengatakan bahwa metode nasehat itu sasarannya adalah untuk menimbulkan
kesadaran pada orang yang dinasehati agar mau insaf melaksanakan ajaran yang
digariskan atau diperintahkan kepadanya.
BAB III
LAPORAN HASIL PENELITIAN
A.
Profi Tempat Penelitian
1.
Nama Sekolah : SD ‘Aisyiyah Kota Sukabumi
2.
NSS : 103026202026
3.
Tahun Berdiri :
2008
4.
Tahun Beroperasi : 2008
5.
Status : Swasta
6.
Alamat : Jl. Pelabuan II No. 185
Blk. Cipoho Indah
7.
Kelurahan : Cikondang
8.
Kecamatan : Citamiang
9.
Kota :
Sukabumi
10. Kode POS : 43142
11. Kepala
Sekolah :
Jana Jaenudin, S.Si.
12. Waktu
belajar :
Pagi
13. Jumlah
Rombel : 10
Rombel
14. Jumlah siswa : 210 orang
15. Jumlah
Tenaga Pendidik : 24 orang
16. Jumlah
tenaga kependidikan : 8 orang
B.
Hasil Penelitian
Dengan menggunakan metode penelitian Observasi, Wawancara dan Kuesioner,
yang di lakukan kepada para tenaga pendidik di sebuah Yayasan Pendidikan yang
terletak di daerah Cipoho, yaitu SD
‘Aisyiyah Kota Sukabumi. Saya dapat menghimpun dan menyajikan data yang menerangkan
bahwa :
1.
Metode Mengajarkan Agama Pada Anak
(Balita)
Pendidikan
anak usia dini merupakan tanggung jawab orang tua, karena anak pada usia ini
lebih banyak bergaul di dalam lingkungan keluarganya yang berfungsi sebagai
pendidik yang menanamkan pemahaman dan pengalaman keagamaan.
Adapun metode yang digunakan untuk
mengajarkan agama pada anak-anak, yaitu :
a. Metode Demonstrasi
Metode ini dilakukan dengan media
gambar. Karena dengan gambar anak usia dini dapat dengan cepat memahami maksud
dan tujuan pembelajaran.
b. Metode Kasih Sayang
Metode ini di lakukan untuk melakukan
pendekatan terhadap anak, hal ini di lakukan karena dapat memberikan ransangan
edukatif yang sangat positif bagi anak.
c. Metode Berlagu
Metode ini merupakan cara
menyampaikan materi dengan melalui lagu, tentu saja yang di lagukan adalah
kata-kata yang baik. Misalnya, menyebutkan nama-nama hari dengan lirik lagu.
2.
Metode Pengajaran Agama Pada
Anak-anak
Anak-anak
adalah masa dimana mereka haus dengan ilmu, dan mereka cenderung masih mudah
dimasuki dengan hal-hal yang baru, dan sangat berbeda dengan remaja. Begitupun
dalam hal mendidik. Lebih dituntut akan kesabaran, dan kasih sayang.
Dalam mengajarkan agama pada anak-anak
diperlukan berbagai metode yang sesuai dengan syari’at islam. Adapun metode
yang digunakan untuk mengajarkan agama pada anak-anak, yaitu :
a. Metode Demonstrasi
Berupa presentasi dan menampilkan
hasil karya anak. Metode ini dilakukan jika materi pembelajaran lebih kepada
yang sifatnya praktek.
b. Metode Diskusi
Belajar mengeluarkan pendapat.
Metode ini dilakukan jika materi pembelajaran sudah berakhir untuk mengeluarkan
pendapat yang di miliki anak didik.
c. Metode Tanya jawab
Metode ini di lakukan untuk bahan
evaluasi.
d. Metode Ceramah
Metode ini dilakukan jika materi
pembelajaran yang sifatnya hanya pengetahuan.
e. Metode Nasehat.
f. Metode Cerita
Metode ini
di lakukan jika materi pembelajaran mengenai kisah-kisah yang baik atau buruk.
g. Metode Drama
Metode ini di lakukan jika materi
pembelajaran berupa kisah atau peristiwa.
Yang
sering digunakan yaitu metode ceramah dan Tanya jawab. Karena, dengan ceramah
terdapat kelebihan yaitu, penggunaan waktu yang lebih efisien dan pesan yang
disampaikan dapat sebanyak-banyaknya, pengorganisasian kelas lebih sederhana,
dapat memberikan motivasi siswa terhadap belajar, fleksibel dalam penggunaan
waktu dan bahan. Sedangkan, dengan Tanya jawab situasi kelas akan hidup karena
anak-anak aktif berfikir dan menyampaikan buah fikiran, anak-anak lebih berani
mengungkapkan pendapatnya dengan lisan, juga menghangatkan proses diskusi.
3.
Metode Pengajaran Agama Pada Remaja
Remaja adalah masa transisi dimana masa pubernya itu lebih dominan, dan
rasa ingin tahunya mulai meningkat. Maka dari itu kita selaku pendidik dan
orang tua mengisi rasa keingin tahuannya dengan hal yang positif, salah satu
nya dengan metode pembelajaran pendidikan agama islam.
Dalam mengajarkan agama pada remaja
diperlukan berbagai metode, berdasarkan pengalaman pribadi, dan pengetahuan
yang kita punya. Akan tetapi itu semua tidak terlepas dari apa yang di ajarkan
di dalam Al-Qur’an. Adapun metode yang digunakan untuk mengajarkan agama
pada remaja, yaitu :
a. Metode Keteladanan
Yaitu metode yang dilakukan dengan cara,
mengawali sikap diri kita sendiri, yang menunjukkan sikap kita yang lebih baik.
b. Metode Demonstrasi
Yaitu metode yang di lakukan dengan
cara, memperlihatkan dan memperaktekkan cara beribadah dengan baik.
BAB IV
PENUTUP
A.
Kesimpulan
- Metode
adalah seperangkat cara, jalan atau teknik yang di gunakan oleh pendidik
dalam proses pembelajaran agar peserta didik dapat mencapai tujuan
pembelajaran.
- Metode
pembelajaran yaitu suatu cara penyampaian bahan pelajaran untuk mencapai
tujuan yang di tetapkan.
- Metode
pengajaran agama pada anak balita; mendengarkan azan dan iqamah saat
kelahiran anak, metode hiwar, metode ketauladanan, metode pembiasaan,
metode drill atau latihan, metode pemberian hadiah.
- Metode
pengajaran agama pada anak-anak yaitu ketaladanan, pembiasaan,
nasehat, kisah, dan hukuman yang mendidik.
- Metode
pengajaran agama pada anak remaja yaitu keteladanan, demonstrasi,
pemberian tugas.
- Berbagai
macam metode yang di lakukan guna untuk mendekatan agama terhadap balita,
anak-anak dan remaja. Akan tetapi itu semua tidak terlepas dari
nilai-nilai yang terkandung di dalam Kitab Suci Al-Qur’an.
B.
Saran
Semoga
bahan diatas dapat dijadikan sebagai referensi bagi para pendidik, orang tua
dan masyarakat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar